Tes Keperawanan Ala Tradisional, Desa Ngadar Malang

Tes Keperawanan Ala Tradisional, Desa Ngadar Malang

Tes keperawanan bisa dibilang menjadi salah satu tolak ukur nilai dari seseorang perempuan. Ketika masih perawan maka ia bakal dihormati, tapi sebaliknya, kalau sudah tidak, jelas akan banyak orang yang memandang sebelah mata.

Sudah menjadi hal wajib bagi wanita untuk tetap menjaga keperawanannya hingga menikah. Maka dari itu, tes keperawanan bisa dikatakan adalah hal yang wajib dilakukan.

Mengenai hal ini, mungkin kita akan berpikir jika hal tersebut hanya bisa dilakukan lewat cara medis saja. Kenyataannya, kita bisa melakukan tes ini dengan cara tradisional. Contohnya masyarakat di desa Ngadas tepatnya di Malang. Mereka memiliki cara unik untuk mengetahui seorang perempuan masi perawan atau tidak.

Petekan, merupakan cara tradisional di desa ini untuk mengetahui seseorang gadis masi perawan atau tidak. Petekan sendiri yakni semacem pijatan khusus yang hanya dilakukan mereka para ahlinya.

Istilah Petekan sendiri berasal dari kata dipetek yang memiliki arti ditekan. Proses tradisi ini memang dilakukan oleh seorang dukun bayi yang menekan perut para peserta petekan. Bagian yang diraba adalah antara pusar dan kemaluan.

Baca Juga : Mengaku Salah, Dora Natalia Minta Maaf

Dalam Dunia Medis, teknik Petekan disebut Palpasi. Biasanya dilakukan para bidan untuk mendeteksi keberadaan bayi dalam perut. Dukun bayi yang sudah ahli, dipercaya untuk melakukan petekan. Si dukun bayi juga bisa merasakan apakah peserta yang belum menikah itu masih perawan atau tidak.

Hingga saat ini, tradisi ini masih rutin dijalankan setiap tiga bulan sekali. Sementara para pesertanya adalah para gadis yang usianya beranjak dewasa. Tidak hanya itu, para janda yang masih berusia subuh juga menjadi bagian dari peserta. Biasanya orang yang dituakan yang mengumumkan akan diadakannya acara ini.

Tradisi ini sendiri biasanya diadakan di salah satu rumah warga dan tertutup. Sekitar pukul 19.00 tradisi ini mulai berjalan hingga pukul 21.00.

Selain menekan angka seks bebas di kalangan remaja, tradisi ini juga bertujuan untuk menjaga kehormatan para gadis. Banyak laki-laki yang meragukan keperawanan para gadis di era sekarang namun dengan adanya tradisi petekan, status keperawanan dari gadis nganas tidak perlu lagi dipertanyakan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!