Inilah Rumah Warga Hongkong Yang Seperti Peti Mati Luasnya

Rumah Warga Hongkong Inilah Yang di Tempatin

Rumah Warga Hongkong pernah melihat ‘manusia gerobak’? Mereka biasanya terdiri dari satu keluarga yang enggak punya tempat tinggal dan terpaksa menggunakan gerobak sebagai ‘rumah’ mereka. Fenomena seperti ini ternyata bukan cuma terjadi di Indonesia.

Di Hong Kong misalnya, kamu bisa menemukan ‘manusia kandang’. Orang-orang berpenghasilan rendah, terpaksa tinggal di dalam kotak berjaring besi yang bentuknya menyerupai kandang. Di sini mereka istirahat dan menyimpan barang-barang pribadinya. Lokasinya ada yang di pinggir jalan atau di dalam kawasan tertentu. Untuk tinggal di sini, mereka harus membayar sewa sekitar Rp 3 juta per bulan.

Semua aktivitas Simon hanya bisa dilakukan dengan posisi berbaring atau duduk, karena tidak ada space yang cukup untuk berdiri. Mereka yang tinggal di ruang sempit seperti Simon harus pintar mengatur tata letak barang-barangnya. Contohnya Li Rong yang membagi kotaknya jadi dua bagian. Di bagian bawah, dia manfaatkan sebagai tempat tidur. Sementara area atas digunakan untuk menyimpan barang-barang.

Pilihan tempat tinggal lainnya yaitu coffin apartment atau apartemen yang seperti peti jenazah. Bentuknya kecil memanjang dengan luas sekitar 5 meter persegi. Apartemen yang terlihat lebih mewah dari ‘rumah kandang’ ini disewakan dengan kisaran biaya Rp 6,5 juta per bulan. Semakin jauh dari pusat kota, harga properti bisa semakin murah. Seperti rumah petak (coffin home) yang disewakan seharga Rp 2 juta per bulan. Di dalamnya terdapat kamar mandi kecil dan masih ada ruang untuk satu tempat tidur.

Biaya tempat tinggal di Hong Kong memang terbilang mahal. Sejak 2012, harga properti di sini meningkat sampai 50 persen. Mereka yang enggak punya duit, terpaksa tersingkir dan tinggal di tempat seadanya.

Selain di Hong Kong, kondisi ini juga bisa kita temukan di negara lain seperti Korea Selatan, India dan Cina. Sementara orang-orang di negara maju memanfaatkan berbagai teknologi untuk tetap bisa tinggal nyaman di area yang sempit. Semuanya sebagai bentuk adaptasi terhadap semakin padatnya jumlah penduduk di bumi.

Baca juga tentang Pengungkapan peran utama di balik kasus korupsi E-KTP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!