Pusat Penjualan Barang Elektronik Kini Mulai Sepi Pengunjung

Pusat Penjualan Barang Elektronik Sepi

Kios-kios di pusat penjualan barang elektronik, Pasar Glodok mulai banyak yang tutup. Toko elektronik yang buka pun tidak sebanding dengan jumlah pembeli yang datang. Suasana yang lebih lengang lagi akan terlihat bila pengunjung beranjak ke lantai yang lebih tinggi. Jumlah deretan toko yang ditutup makin banyak di tiap lantai.

Hal ini menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kotor dan tidak terawat. Lorong depan toko yang tutup tampak tidak dibersihkan. Hal ini nyata dengan banyaknya puntung rokok dan bungkusan makanan ringan yang dibuang begitu saja. Selain itu, tumpukan kardus barang elektronik yang memenuhi lorong. Serta minimnya penerangan pun menambah kesan tak terawat sehingga membuat pengunjung enggan lewat.

Di lantai 5 Pasar Glodok, kondisi cukup miris. Banyak toko tutup dan pengunjung tak banyak yang datang. Cuma suara pedagang yang ngobrol satu sama lain atau menyapa satu atau pengunjung yang lewat.

Kondisi ini membuat para pedagang menjual lapak atau kiosnya ke penjual lain. Bahkan, pedagang rela jual murah karena tidak ada lagi keuntungan yang didapat dari kios tersebut. Pedagang elektronik, Marvi (50) mengaku harus gulung tikar karena sepinya pengunjung Pasar Glodok. Dia pun turut menjual kiosnya ke pedagang lain seharga Rp 15 juta.

Pedagang Pusat Penjualan Barang Elektronik Bangkrut

Beberapa pedagang mengaku sudah cukup banyak rekan mereka sesama pedagang yang menutup toko dan pindah ke tempat lain. Ada pula yang menjadikan toko yang tutup sebagai gudang. Selain dijadikan gudang oleh pemiliknya, toko yang tutup juga disewakan oleh pemilik sebelumnya. Di beberapa sisi pasar, tampak berapa toko yang tutup, disertakan pesan singkat ‘disewakan’ lengkap dengan nomor kontak pemilik sebelumnya.

Sebagian pedagang memilih untuk mengurangi pegawainya dan menjalankan usaha sendiri. Pedagang elektronik, Lili (42) mengaku pengurangan pegawai untuk meminimalisir pengeluarannya. Awalnya, dia memiliki satu orang pegawai, namun karena sepi akhirnya dia memberhentikan pegawai tersebut.

Pedagang lainnya, Rini (39), juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku pendapatannya turun hampir 60 persen, sehingga tidak dapat membayar pegawai.

Baca juga berita-berita menarik lainnya hanya di LiputanKompas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!