Inggris Hentikan Pelatihan Militer Myanmar Terkait Kasus Krisis Rohingya

Krisis Rohingya

Hubungan antara negara Inggris dengan Myanmar menjadi renggang akibat terjadinya kasus krisis Rohingya. Akibatnya, Otoritas Inggris menghentikan pelatihan untuk militer Myanmar karena praktik kekerasan di Rakhine. Inggris menegaskan pelatihan akan ditangguhkan hingga ada resolusi nyata.

Otoritas Inggris menyatakan kekhawatiran mendalam atas pelanggaran HAM di Rakhine. Diketahui bahwa operasi militer Myanmar di wilayah itu disebut-sebut sarat kekerasan dan memicu eksodus warga Rohingya ke Bangladesh.

Sejauh ini lebih dari 420 ribu warga Rohingya telah mengungsi ke Bangladesh sejak konflik kembali pecah pada 25 Agustus lalu. Konflik pecah setelah militan Rohingya menyerang puluhan pos polisi dan sebuah pangkalan militer Myanmar. Hal tersebut berujung operasi militer besar-besaran di Rakhine.

“Aksi militer yang dilakukan terhadap warga Rohingya harus dihentikan. Tidak akan ada pelatihan. Serta tidak ada keterlibatan pertahanan untuk militer Burma dari kementerian Pertahanan hingga ada resolusi untuk isu ini,” tegas Perdana Menteri Inggirs.

Pemerintah Inggris di London juga merilis pernyataan tertulis resmi yang menjelaskan soal keputusan penangguhan pelatihan militer Myanmar ini.

“Menyoroti kekerasan yang terus berlangsung di negara bagian Rakhine, Burma, krisis kemanusiaan yang terus berkembang. Kekhawatiran mendalam kami soal pelanggaran HAM yang tengah terjadi juga. Kami telah memutuskan untuk menangguhkan kursus pendidikan yang diberikan kepada militer Burma. Hal ini akan berlaku hingga ada resolusi yang bisa diterima untuk situasi saat ini,” jelas Pemerintah Inggris.

Selama ini militer Inggris memberikan pelatihan keahlian yang fokus pada pelatihan bahasa, pemerintahan, akuntabilitas, etika, hak asasi manusia. Tidak hanya itu hukum internasional terhadap militer Myanmar juga diberikan pelatihan.

Inggris juga menegaskan mereka tidak pernah memberikan pelatihan perang kepada militer Myanmar. Sekitar 150 anggota parlemen Inggris menulis surat kepada Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson. Isi dari surat tersebut menyerukan agar pelatihan untuk militer Myanmar ditangguhkan.

Baca juga berita-berita menarik lainnya hanya di LiputanKompas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!