Bagaimana Nasib Para Penjaga Gerbang Tol, Bila Bayar Tol Menggunakan Uang Elektronik

Bagaimana Nasib Para Penjaga Gerbang Tol, Bila Bayar Tol Menggunakan Uang Elektronik

Seluruh gerbang tol akan melayani transaksi pembayaran  non tunai pada 2017. Itu artinya,penetrasi penggunaan uang elektronik di jalan ini mencapai 100 persen. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap nasib para petugas tol karena tidak ada lagi transaksi tunai.

“Jalan tol ditargettkan menggunakan uang elektronik, all elektronik toll hingga akhir 2017. Berlaku seluruh gerbang tol,” kata Kepala badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna.

Herry lebih lanjut menuturkan, efisiensi atau pengurangan pegawai dari kebijakan tersebut pasti terjadi. Alasanya karena tugas dari petugas tol akan berkurang dan tergantikan dengan mesin tap atau EDC. “Mungkin ada pengurangan (karyawan) tapi itu tugas perusahaan lah, kan kebutuhan proses bisnis berubah dan bisa ditugaskan ke tempat lain jadi dampak pengurangan bisa diminimalisir, bahkan kalau perlu tidak terjadi,” dia menjelaskan.

Sementara jika sudah masuk pada tahapan pembayaran tanpa henti (multilane free flow) di gerbang tol, kata Herry, barulah memungkinkan terjadinya pengurangan petugas tol. “Kalau multilane, baru semua tanpa petugas. Ya nanti kan diprogramkan perusahaan,” Herry menuturkan.

Sebelumnya, Herry juga menjelaskan bahwa pemerintah, BUJT dan Bank Indonesia (BI) membuka peluang integrasi pembayaran tol non tunai kepada seluruh bank yang menerbitkan e-money. Dengan demikian, satu mesin (electronic data capture) EDC di gardu tol bisa di tap pengguna multibank.

“Satu mesin bisa di tap uang elektronik perbankan mana saja. Uang elektroniknya bisa digunakan untuk moda transportasi lain, seperti busway, tidak harus beli kartu e-toll sehingga memudahkan dan membuat nyaman pengguna. Cuma uang elektronik ya, debet belum bisa,” dia menerangkan.

Penggunaan uang elektronik secara menyeluruh dan bertahap hingga akhir tahun ini. Diakuinya, penetrasi penggunaan non tunai di gerbang tol seluruh Indonesia baru 23 persen. Rata-rata di ruas tol Jabodetabek menjangkau 25 persen, bahkan di ruas tertentu yang tertinggi 34 persen. Penetrasi ini harus makin meningkat menuju 100 persen, seperti naik commuter line kan sudah elektronik semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!